BENARKAH MAKIN TINGGI HARGA JAGUNG, MAKIN TINGGI ARUS BANJIR ?

"Ini Indonesia.. Daerah tropis. Hujan akan datang tiap tahun, jika babat hutan secara liar tetap terjadi, maka banjir jangan diharapkan dapat berhenti. Segera carikan solusi terbaiknya."


Sumber : Facebook


Hujan tak reda, banjir pun tak surut...
Sejak dua hari terakhir ini curah hujan yang begitu deras serta angin kencang tak pernah berhenti. Masyarakat berhamburan bagai sarang semut yang diganggu. Mencari celah untuk berteduh dan menolong diri. 

Semua aktivitas terhenti, makan enak tak terasa, jalan-jalan tak tenang. Semua pikiran terkuras memikirkan keselamatan masing-masing. Harta benda yang dicari menjadi prioritas untuk diselamatkan. 

Ketenangan terganggu, wajah ceria menjadi sedih. Langkah kaki hanya mencari keselamatan. Otak seakan tak menyiapkan ruang sedikitpun untuk disisihkan sedikit pikiran untuk berekreasi. Tak ada yang indah jika dihadapkan suasana seperti ini. 

Rumah mewah yang dibangun dengan keringat yang bercucuran, kini terendam banjir dengan suasana yang tidak diharapkan. 

Sumber : Facebook


Lalu apa yang kemudian harus dibanggakan?  Apakah memiliki lahan yang banyak serta hasil jagung yang melimpah? atau dapat membeli motor dan mobil dengan mudah, sebab hasil jagung memuaskan ? Tentu itu benar adanya, tetapi apakah itu menguntungkan untuk keselamatan kita? Ini beberapa pertanyaan yang harus kita jawab dan ducarikan solusi bersama.

Setiap tahun per satu rumah satu mobil, program itu meski bukan bagian dari rancangan undang-undang pemerintah tetapi jika dianalisa jauh kedepan,  maka bisa saja hal itu dapat terjadi.

Masyarakat berlomba lomba memperkaya diri dengan hasil jagung, tanpa berpikir panjang akan hutan yang dicukur habis. 

Kebijakan menguntungkan petani dengan menaikan harga jagung berpotensi pada semakin luas dan bertambahnya keinginan masyarakat untuk bertani jagung. Akibatnya potensi membuka lahan baru dihutan lindung akan semakin merajalela. 

Sejak kemunculan bertani jagung di Kabupaten Bima hingga Dompu dan Sumbawa beberapa tahun yang lalu, secara drastis membuat hutan tutupan negara kini sudah gundul dan tak tersisa. Hanya sekian persen saja di daerah Kabupaten Bima dan Dompu yang masih terjaga kelestarian hutan. 

Sumber : Facebook


Slogan " jaga Hutan Rawat Bumi" hanya sebagai luapan ekspresi dihadapan layar, memberi ruang membuka lahan baru selalu disertai dengan iming - iming balas budi. Lalu lihat apa yang kini terjadi ? 

Hujan tak henti,  banjir semakin tinggi,  longsor dimana - dimana, rumah, harta benda semua terbawa ombak berwarna cokelat ini. 

Dari tahun ke tahun, suara dilantangkan diatas bumi, menyampaikan kepada mereka hendak memfungsikan kapasitasnya, membantu mereka yang hanya dapat dilihat jika menunduk. Lalu suara itu dibungkam dengan tanpa ekspresi dan mendiamkannya.
 
Hati teriris melihat mereka yang dengan tangisan dan ketakutan menahan bencana yang kian menimpa. Tak ada senyum yang terlihat, kebingungan dan ketakutan menghantui. Berharap semua berlalu dan baik - baik saja.

Beranda facebook diisi dengan lantunan irama mereka yang berteriak mengharap pertolongan. Suara yang muncul pada layar handphone melalui siarang lansung mereka yang peduli. Memberi aba kepada yang lain agar tetap waspada. 

Saya menulis ini sebagai bentuk keprihatinan melihat alam yang kini punah kehijaunnya dan masyarakat yang tertimpa bencana kerena ulah tangan sendiri. 

Bagi saya meningkatkan harga jagung bukan bagian daripada solusi.! Jika ada komoditi lain yang dianggap sesuai dengan suburnya tanah kita tanpa membabat habis hutan lindung, maka tawarkanlah kepada mereka, berilah keyakinan yang kuat jika ini dapat membantu perekonomian. Atau memanfaatkan potensi yang ada dengan diberikannya pelatihan yang mumpuni. 


STOP PEMBABATAN HUTAN SECARA LIAR🚫


Komentar

Postingan Populer