GENERASI HARUS TAU, MPILI PUNYA BUDAYA DAN SEJARAH YANG KUAT.
Sebuah wilayah akan berkembang pesat jika di dalamnya dihuni oleh orang-orang yang memiliki daya pikir yang inovatif, kreatif serta mempunyai sumber daya manusia yang mempuni. Sebab, Ide - ide cemerlang mereka sangat dibutuhkan untuk perkembangan tatanan kehidupan bangsa ini.
Kualitas serta kuantitas suatu daerah memang membutuhkan figur - figur cerdas dan berkompeten dalam bidang pengembangan daerah, apalagi untuk skala desa. Nah, mari kita tengok beberapa desa maju yang ada di Negara indonesia seperti halnya Desa Waturaka di Ende, Nusa Tenggara Timur sebagai desa wisata terbaik kategori alam, Desa Ubud di Gianyar, Bali sebagai desa wisata terbaik kategori budaya, dan Desa Ponggok Klaten, Jawa Tengah sebagai desa terbaik pemberdayaan masyarakat.
![]() |
| Foto// Dusun Duhani,u Desa Mpili Kec. Donggo |
Desa - desa tersebut sebenarnya merupakan cerminan besar bagi desa - desa yang lain. Maka dengan demikian tugas kita sebagai generasi era abad 21 ini, diharapkan lebih tajam memperhatikan kebutuhan wilayah kita, baik dari segi pembangunan, budaya, keagamaan, serta pariwisata.
Pada dasarnya kelahiran generasi era post modern seperti kita saat ini, jika masih bertahan merawat tradisi dan budaya, tentu saja akan membangkitkan kembali peradaban-peradaban "Dana Ro Rasa" yang telah sirna termakan oleh waktu.
Desa Mpili?
Q Mpili merupakan salah satu desa yang berada pada garis khatulistiwa Kecamatan Donggo. Ia terletak persis di pertengahan wilayah donggo. Kendati demikian, apa yang membuat generasi sekarang tidak berbangga hati lahir disini? Padahal Mpili punya sejarah, punya Budaya, punya ciri khas keagamaan yang kuat, punya adat istiadat, karakter wilayah yang berbeda dengan daerah lain, meski berada di satu payung yang sama (Sama Donggo), dan tentu saja ini semua mungkin akan hilang dilahap sejarah. Maka dari itu generasi setempat meski berbangga hati sebab ia bisa lahir dan besar ditanah pahala ini.
Mari amati bersama, Semboyan "Kambali Mbojo Mantoi" (Kembalikan Bima yang dulu). Konteks ini dimaksudkan pada tatanan kebudayaaan dan adat istiadat, serta keyakinan secara spiritualitas masyarakat dulu yang benar - benar yakin terhadap Ya Illahi Rabbi. Semboyan itu sebenarnya terletak di suku Donggo (ndaita weki Donggo). Sebab budaya lokal donggo begitu kuat dan lekat dikalangan pribumi tanah Bima bahkan menjurus hingga ke mancanegara.
![]() |
| Foto// Pemandangan dari Puncak selingkuh Desa Mpili |
Daya tarik lain yang dimiliki masyarakat Mpili adalah semangatnya dalam berpendidikan. Generasi era post modern sekarang tidak ada yang tidak sekolah, meski hanya selesai pada tingkatan bangku Sekolah Menengah Atas (SMA).
Slogan Dou Mpili (Masyarakat Mpili) yang disering disebutkan para orang tetua terdahulu hingga saat ini begitu melekat, "Kone da sakolah nami sura sakolah ana" (Meski Kami tidak sekolah yang penting anak kami berpendidikan). Satu slogan atau semboyan yang luar biasa mengasah semangat etos kerja dan pendidikan masyarakat setempat. Maka tidak heran jika semua generasi saat ini berpendidikan (sekolah hingga kuliah).
Beberapa semangat positif itu kiranya dapat terkikis oleh kejamnya perkembangan tekhnologi era 5.0 di abad 21 ini, hingga budaya dan adat istiadat kita hanya dapat kita lihat dalam arsip sejarah, itupun jika tersimpan. Lalu bagaimana jika tidak, maka tentu saja hanya menjadi sampah semesta, tidak terlihat dan hilang begitu saja.
Nah, apa peran kita generasi sekarang?
Tentu yang harus kita lakukan adalah mari sama - sama membangun kembali semangat "Dou Mantoi" (orang terdahulu). Sisakan sebagian semangat mereka agar tak hanya terbungkus dalam bingkai sejarah, akan tetapi semangat itu dijadikan lampu penerang untuk kita bisa mencintai "Rasa Ndai" (tanah kelahiran) hingga kedepannya.
Penulis : Hardy Yudha











Komentar