SEJARAH MENCATAT, DOU MPILI KA KIDI NGGAHI
![]() |
| Foto Suasana Desa Mpili dari Arah selatan (Dok. Hardy) |
NB : Tulisan ini hasil dari Revisi tulisan sebelumnya.
Manusia tidak bisa terlepas dari sejarah, siapapun dia karena sejarah hadir untuk menunjukan jejak dan identitas yang sebenarnya. Sejarah mencatat aktivitas lampau yang pernah dilewati dengan beragam situasi dan kondisi. Keberadaan sejarah menghidupkan kembali aktivitas para pendahulu melalui gambaran tekstual (fisik) dan kontekstual (alam pikiran).
Setiap kita adalah pencipta sejarah, dan setiap sejarah pasti akan selalu di kenang. Kurang lebih itu salah satu filosofi dari sekian banyak filosofi tentang sejarah yang sering kita dengar, dan tentunya sejarah memang akan selalu diingat.Dengan demikian, Dr. Abdul Kodir MA, dalam bukunya Sejarah Pendidikan Islam, mengatakan bahwa setiap manusia harus menjadi seorang sejarawan, minimal sejarawan bagi diri sendiri (every man is own historians).
Sejarah memiliki makna dan nilai tersendiri untuk disampaikan kepada generasi. Sebab sesuai pengertiannya, disebutkan dalam bahasa arab yakni "syajaratun" yang artinya "pohon kayu". Jelaslah bahwa yang dimaksud pohon kayu artinya tegak, memiliki akar, bercabang, mempunyai ranting, serta memiliki daun dan buah, dan itulah sejarah. Percayalah bahwa setiap masa ada masanya.Sejarah acap kali diartikan sebagai pintu masuk kembali menuju kepada masa lampau.
Sebagai ilmu pengetahuan, sejarah mengungkap peristiwa masa lalu, baik masalah sosial, politik, ekonomi, budaya, maupun agama, bahkan budaya bangsa, budaya negara, budaya dunia. Gazalba (1981 : 2) menyatakan bahwa sejarah adalah kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau atau peristiwa penting yang benar-benar terjadi. Definisi ini lebih menekankan pada materi peristiwa tanpa mengaitkan dengan aspek yang lainnya.
Adapun dalam pengertian yang lebih luas sejarah adalah gambaran masa lalu tentang aktifitas kehidupan manusia sebagai makhluk sosial yang disusun berdasarkan fakta dan penjelasan (interpretasi) terhadap objek peristiwa masa lampau.
SEJARAH DESA MPILI
~~~
Desa Mpili sebenarnya datang belakangan dari Kawanggi. Mpili artinya orang terpilih. Desa ini dipindahkan oleh Sultan M. Salahudin melalui perintahnya dari Rasa ntoi yang berada di dataran tinggi antara Mpili dengan Kamunti menuju Mpili bou (Mpili yang baru). Posisi kampung Mpili Ntoi ini dulunya tepat di atas dataran yang cukup tinggi, sehingga orang-orang Rasa Ntoi waktu itu dengan mudah memandang Asi Mbojo di Kota Bima.
![]() |
| Foto Desa Mpili di potret dari arah Timur (Dok. Hardy) |
Kenapa Mpili diartikan sebagai terpilih? Karena salah satu orang donggo yang menjadi petuah atau disebut Kembangi yang berkhidmat menjadi Staf Asi Mbojo di masa kesultanan M. Salahudin waktu itu terdapat orang mpili, ia bernama "Mbangi". Beliau adalah orang yang tinggal di Rasa Ntoi yang kini berpindah tempat dan mengganti nama menjadi Mpili atau yang dikenal sekarang dengan sebutan Desa Mpili.
Kesultanan Ibrahim dengan Putranya Sultan M. Salahudin sekitar tahun 1901 mendatangi Rasa Ntoi tersebut dan menatap ke arah Asi Mbojo sembari berdialog untuk segera memindahkan Rasa Ntoi dengan alasan bahwa keberadaan Mpili Ntoi terlalu tinggi untuk membawahi Asi Mbojo (Kawawa).
Selain itu, Konon katanya bahwa alasan lain Sultan memindahkan Rasa Ntoi adalah karena Orang Mpili Ntoi tersebut dikenal sebagai orang yang cukup berpengaruh, berani dan tegas dalam menyikapi semua persoalan. Dalam bahasa Bima disebut sebagai " Kindi Nggahi"
Kindi nggahi adalah sebutan Sultan untuk orang-orang Rasa Ntoi. Kindi nggahi diartikan sebagai sebuah prinsip hidup, keputusan, kebijakan yang tidak seorangpun berani membantah atau menolaknya.
Ketakutan Sultan sehingga bertekad memindahkan Rasa Ntoi atau Mpili Ntoi, karena ada kekhwatiran akan adanya pengganti kuasa Asi Mbojo. Salah satu orang yang ditajuti di Rasa Ntoi ini juga termasuk La NCOLO. Beliau adalah bapak dari orang-orang donggo. Keturunan dari beliau itu sudah semakin banyak hingga menyebar ke berbagai wilayah Donggo bahkan sekarang sudah menjadi orang berpengaruh di beberapa desa.
![]() |
| Foto Wadu Nocu Wa'i Pia terletak di Desa Mpili (Dok. La Afina) |
Salah satu orang yang terpilih menjadi Staf di Asi mbojo terkenal dengan ketegasan dalam mengambil sikap. Bahasa Bima nya ( Weha Nggahi Kese)
Bukti Otentik dari jejaknya La Mbangi sebagai Staff Asi hingga ia meninggal yakni kuburannya yang terletak di Piri Oi sebelah Dusun Langgentu Desa O'o.
Mpili Ntoi dulunya berasal dari rasa ntoi sebelah atas Desa Padende, dan Istri dari La Mbangi itu berasal dari Rasa Wau di sekitaran Desa Padende.
Selain Rasa Ntoi Atau Mpili Ntoi, di bawah nya lagi ada kampung terpisah namanya " Kamunti" . Kamunti berasal dari waro. Kampung yang berdiri sendiri ini kemudian ditaklukan oleh orang-orang Rasa Ntoi sehingga Kamunti ini berhasil disatukan menjadi Desa Mpili.
Waktu itu belum ada istilah Desa atau kepala Desa. Istilah Kepala Desa mulanya di sebut sebagai "Glara" dan yang menjadi Glara pertama si Desa Mpili atau Mpili Ntoi/ Rasa Ntoi yaitu Sahidu. Orang-orang biasa memanggilnya Ompu Du atau Ompu Sahidu.
Sekitar tahun 1901, di Desa Mpili belum ada satupun yang menganut agama Islam. Semuanya masih menganut Agama Kristen. Kalau diteliti dari sejarah awal masuk islam di Donggo, ada Salah satu Syekh yang bernama Syekh Banta asal Banten dan Syekh Umar dari Jogjakarta.
Syekh Umar yang membawa islam di Kota Bima, sementara syech Banta inilah yang membawa islam ke Tanah Donggo. Sehingga semua orang Donggo, yakni Desa Mpili, Kala, O'o, Doridungga dan sekitarnya masuk islam semua. Kecuali terdapat beberapa orang yang masih menganut kepercayaan awal yakni Desa Mbawa.
Beliau wafat dan dikubur di Kota Bima. Islam masuk di Donggo bersamaan dengan masuknya islam di Desa Mpili dari tahun 1941 mulai dari Mangge Nae sebelah Desa Doridungga dan sekitarnya.
Sumber : H. Ismail, H. Dzakariah, dan beberapa tokoh Tua lainnya.
Beberapa catatan Dikutip dari tulisan La Kese












Komentar