HAKIKAT MANUSIA DAN ZAMAN
Manusia adalah
makhluk social yaitu makhluk yang tidak lepas dari kedudukanya sebagai idividu
yang berada di dalam individu lain yang memiliki sifat dan karakter yang
berbeda. Karena kedudukannya sebagai makhluk social maka manusia tidak
lepas dari setiap problem kontruksi social yang meliputinya.
“Larut dalam proses perubahan zaman ataukah menjadi bagian pendorong dari perubahan zaman ”
Setiap manusia memiliki karakter yang berbeda, antara hari ini dan hari – hari sebelumnya, hal kemudian merupakan bentukan dari proses alamiah yaitu sebuah proses scenario manusia itu sendiri.
Melalui karakternya setiap zaman memiliki kekuatan untuk dapat mencipta generasinya yang berkualitas baik secara sadar atau tidak sadar.
![]() |
| Foto//Ist |
Setiap manusia yang sadar akan fitrahnya sebagai manusia berkeinginan untuk tetap memegang teguh setiap prinsip mendasara dari fitrah yang dimilikinya agar supaya nilai-nilai kemanusiaannya tidak mengalami degradasi atau distorsi sehingga dia tidak disebut sebagai makhluk bukan manusia (Binatang).
Dalam rangka mewujudkan hal itu manusia berupaya untuk merumuskan sebuah strategi hidup untuk bertahan dan menjaga fitrah yang dimilikinya.
Berbagai strategi dan konsep hidup telah di lahirkkan sebagai sebuah bentuk perwujudan dalam terbentangnya kehidupan manusia agar mampu berinteraksi dan bersahabat dengan zaman.
Namun lagi-lagi hampir semua konsep tersebut tidaklah mampu bertahan lama, dengan cepatnya laju arus zaman sehingga secara epistemologis kehidupan manusia telah di benturkan dengan zaman yang malah sebagian besar mengalami distorsi dan tidak memiliki konsistensi ajaran setelah konsep tersebut tidak berlaku.
Seiring berputarnya waktu, manusia berlomba – lomba mencari dan menemukan sebenarnya apa obat atau formula yang berfungsi lebih adaptif terhadap konteks kehidupan manusia diera globalisasi, harapan manusia yang demikian semakin besar karena pada kenyataannya abad 20 sampai abad 21 manusia di dominasi oleh manusia –manusia yang ateisme berideologi materialisme sekularisme dan atesime sebagai faktor penunjang adalah banyaknya penemuan sains, dan tekhnologi yang canggih halite terbukti tidak membawa manusia berada pada tataran keharmonisan yang hakiki.
Malah, dalam perkembangannya, justru menjadi sebuah alat penindasan antar bangsa dan antar manusia begitu juga dengan lingkungan, ketidakadilan,ancaman senjata, ancaman ekoni dan problem sejenis lainya.
Nah.. ada hal – hal yang kemudian perlu di perhatikan dalam proses mencari formulasi perbaikan di era globalisasi yaitu :
- Rasa tidak puas terhadap keadaan dan situasi yang ada, sehingga timbul keinginan untuk mencapai perbaikan.
- Sadar akan adanya kekurangan-kekurangan dalam budaya sendiri, sehingga timbul usaha berbuat sesuatu guna mengisi atau memperbaiki kekurangan yang mereka sadari itu.
- Adanya usaha-usaha masyarakat menyesuaikan diri dengan keperluan, keadaan, dan kondisi baru yang timbul sejalan dengan pertumbuhan masyarakat.
- Tingkat kebutuhan yang semakin bertambah dan beraneka ragam, serta keinginan meningkatkan taraf hidup.
- Sikap terbuka dari masyarakat terhadap hal-hal yang baru, baik yang datang dari dalam maupun luar, serta sikap toleran (menghargai) terhadap hal-hal yang menyimpang dari kebiasaan.











Komentar