“SANGAR MENGOSPEK MABA (MAHASISWA BARU) TAPI TIDAK SANGAR MENGKRITIK KEBIJAKAN KAMPUS”

SANGAR MENGOSPEK MABA (MAHASISWA BARU) TAPI  TIDAK SANGAR MENGKRITIK KEBIJAKAN KAMPUS”



Oleh : Hardi Haryanto Yudha



Selamat Datang di Dunia baru sahabat_sahabatku, adik_adikku, Dunia dimana kalian Bertemu sapa dengan orang_orang Baru, kebijakan baru, dan bahkan lingkungan Baru sekalipun.  Didalam dunia tersebut kalian akan menemukan suatu kebijakan /aturan baru yang bersifat mengikat baik itu dari Dosen _dosen yang otoriter bahkan sampai senior-senior yang sangar (Otoriter) juga,  hingga tidak heran ketika kalian nantinya akan disuguhkan sebuah pasal dalam aturan ospek yang berbunyi ”Senior tak pernah bersalah”  kebijakan itu akan kalian temukan pada saat   Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus atau Ospek.

Ospek merupakan kegiatan awal bagi setiap peserta didik yang menempuh jenjang Perkuliahan di perguruan tinggi. Orientasi pengenalan kampus dengan seluruh rangkaian kegiatannya merupakan suatu didikan pembentukan watak/karakter bagi seorang mahasiswa baru katanya. Dengan kata lain bahwa baik tidaknya kepribadian mahasiswa di sebuah perguruan tinggi dapat terlihat melalui Ospek di perguruan tinggi tersebut. Nah...!!! Watak apa yang akan terlihat ketika ospeknya berlangsung seperti pada  gambar dibawah ini. Pembentukan karakter kah atau pelatihan mentalitas..? Tapi tak apalah ini kebijakan senior.


Hal itu tidak hanya terjadi pada tataran senior dan junior melainkan melebar pula pada kalangam dosen, mahasiswa, dan prasarana perguruan tinggi. Senior (mahasiswa ) yang katanya paham akan dinamika sosial kampus telah tertunduk pada kebijakan kaum elit kampus itu sendiri, membiarkan kebijakan otoriter itu membias pada kalangan junior_juniornya, hal itu berimplikasi pada titik fokus mahasiswa secara umum dalam menjawab problema kampus, bagaimana tidak seorang mahasiswa (senior) memperlakukan juniornya dengan cara_cara aneh yang bersifat tidak mendidik. Mempertanyakan seluk beluk mahasiswa sampai pada akar-akarnya namun pernahkah terlintas dipikiran kita  untuk menggali dan mengkritiki kebijakan kampus yang mengikat seakan akan membohongi kita secara publik masa, mulai dari aturan hingga pada transformasi ilmu pengetahuan, “Sangar Mengospek MABA Tapi tidak sangar Mengkritiki Kebijakan Kampus” lalu mana tanggung jawab mahasiswa ? Tapi selaku mahasiswa yang sadar akan jati dirinya maka kita tak boleh berdiam diri sebab problem  itu sebagai beban individual dan kelompok yang akan berpengaruh besar pada perkembangan intelektual tiap individu dan itu tetap harus ditegaskan oleh mereka senior (mahasiswa) yang paham akan dinamika ini sebab senior merupakan teladan bagi juniornya. Gaya kepemimpinan
Pada era ini saya melihat bahwa telah terjadi pergeseran nilai pada tataran kemahasiswaan, yang dimana mahasiswa lebih cenderung menceburkan diri dalam dunia sosial dengan sepenuhnya namun lupa akan jati dirinya sebagai  benteng NKRI yang dilakukan melalui dunia kependidikan, lupa bahwa mereka adalah penggagas kemerdekan, lupa bahwa mereka pun pernah menurunkan Rezim Soeharto dari kepemimpinannya selama 32 tahun menduduki kursi kepresidenan Republik Indonesia. Dan lupa bahwa mereka adalah agen dari semua agen Perubahan.
Kondisi objektif tersebut sekarang bisa kita lihat sebagian besar gerakan gerakan  yang pernah dilalui oleh mahasiswa sebelumnya tidak pernah diserap sebaik mungkin sehingga tindakan moralnya benar-benar mandul, tak sedikitpun kita rasakan beban sejarah yang Pernah di pikul oleh mereka.
Dari cuplikan diatas perlu diketahui bahwa  memahami sejarah pergerakan mahasiswa itu penting adanya sebab Soekarno pernah berkata “Jangan sekali_kali melupakan Sejarah”

Komentar

Postingan Populer