DONGGO DAN MAKNA DIBALIKNYA


Foto/Ist// Masyarakat Donggo pada Zaman Dahulu


DONGGO

Saya lebih suka demikian
Dipanggil dan disebut dengan itu
Dou Donggo...

Alasan paling mendalam adalah karena saya orang Donggo, dan saya tahu bagaimana asal-muasal saya dari mana, dan seperti apa. Hal ini perlu dikemukakan untuk sekedar berbagi informasi atas semua hal yang mungkin bebas diterjemahkan berdasarkan imajinasi dan keinginan masing-masing iIndividu Baik itu orang-orang di dalam etnis ini sendiri maupun orang-orang yang ada di luar itu. Menurut Johanes Elbert, seorang antropolog dari Jerman, terdapat lima Londo Dou, yaitu: Londo Dou Deke, Londo Dou Duna, Londo Dou Gande, Londo Dou Oi, dan Londo Dou Winte. Lima Londo Dou tersebut masing-masing mempunyai kelas sosial dan fungsi dalam tatanan masyarakat. Mereka biasanya mewariskan keahlian turun temurun pada keluarganya.

Arti Donggo itu sendiri masih menjadi polemik, baik secara arti, istilah maupun sebagai identitas (dou/orang) "Donggo", yang menjadi sebab utama adalah kurangnya literatur sebagai alat pendukung untuk menjelaskan kenyataan itu, atau minimnya informasi tentang bagaimana sesungguhnya yang terjadi, atau mungkin juga kita malas untuk mencari tahu hal-hal yang turun-temurun dari waktu ke waktu. Kalaupun ada yang tahu, kemungkinan adalah sepotong-sepotong, hasil dari mulut ke mulut. Dan anehnya, seakan-akan mereka benar-benar paham tentang apa yang pernah terjadi di masa-masa silam. Kata 'Donggo/Donggo yang berarti memberi, secara gramatikal, bukanlah kalimat yang makna katanya dapat berubah-ubah karena mengalami proses pengimbuhan, pengulangan ataupun pemajemukan yang disesuaikan menurut tata bahasa, serta terikat dengan konteks pemakainya. Donggo tetap-lah Donggo yang merupakan suatu entitas bagi masyarakat yang memiliki sejarah atau budaya itu sendiri.

Pendapat pertama, katanya, kata "Donggo" berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu "Dongo". Bahasa Sansekerta adalah bahasa klasik India yang sejarahnya dimulai lebih dari tiga ribu tahun. Selama ini, bahasa Sansekerta telah menjadi sarana utama ekspresi intelektual, sastra, dan keagamaan di India. Apakah kamu tahu arti "Dongo"?. Dalam senerai istilah Jawa, Dongo adalah alas untuk membakar gamelan. "Dongos" memiliki arti, gigi yang menonjol, sedangkan "Dongong" merupakan nama bunga pohon nipah. Sementara kata Dongo dalam bahasa pergaulan yang trend di kalangan anak muda adalah bahasa yang berkembang secara lisan. Bahasa ini pada mulanya berasal dari Bahasa Minang yakni Dongok. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dongok berarti pendek gemuk, tidak ramping. Biasanya merujuk kepada kondisi badan seseorang. Di dalam pergaulan, arti Dongo tidaklah sama dengan arti Dongok. Meski dalam pelafalannya kerap sama.

Kata gaul merupakan kata tidak baku yang muncul seiring perkembangan zaman. Bahasa gaul dapat tercipta dari berbagai hal seperti kata yang sedang viral, kata serapan bahasa asing, singkatan kata, gabungan kata, serta plesetan dari kata baku. Pengucapan dongo secara lisan biasanya diucapkan dengan akhiran yang terdengar seperti huruk K. Di dalam bahasa gaul, berbeda jauh dengan yang ada di KBBI. Dalam bahasa gaul, arti Dongo adalah tolol, bodoh atau goblok. Jadi Dongo adalah kata kasar yang dipakai untuk menyebut orang yang bodoh. Maksud dari kata ini lebih merendahkan orang lain dan umumnya menimbulkan efek negatif pada lawan bicara. Dan sangat lucu, ketika sekumpulan orang dapat dengan mudah menyimpulkan bahkan mampu mengurangi atau menambahkan salah-satu huruf dalam kata "Dongo" menjadi "Donggo", ataupun sebaliknya.

Bagaimana dengan perubahan itu sendiri?. Sedikit banyak, perubahan apapun dapat juga merubah arti dan makna atas kata (sesuatu) itu sendiri?. Apa mungkin, karena alasan kurang enak hati menyebut atau memanggil orang-orang/objek dengan kata/panggilan Dongo, lalu kemudian atas kesepakatan bersama pula merubahnya dengan sesuatu yang halus agar tidak terjadi ketersinggungan di dalam hubungan sosial kemasyarakatan kala itu. Saya meyakini, tidak!. Kalaupun itu kata serapan, apakah orang-orang terdahulu tidak memahami dampak dari hal ini, kemudian menerima pergantian nama atau identitas tersebut begitu adanya?. Lalu kemudian, apa kira-kira nama Donggo sebelum menerima serapan kata atas asimilasi budaya tersebut?.

Foto/ist// Masyarakat Donggo dan Jenis pakaiannya


Mungkin kita bisa menelaah hal-hal demikian di dalam kitab BO, baik itu "Bo Dalam" ataupun "Bo Luar". Hal-hal demikian pastilah tercatat kalau memang Kitab BO diyakini sebagai kitab yang komprehensif mencatat segala hal tentang kejadian, sejarah, budaya, wilayah dan masyarakatnya. Atau kita bisa membaca bukunya Piter Just, "Dou Donggo Justice". Buku-bukunya, Chambers Loir, Tome Pires, Bunda Wai Kau Mari, Abdullah Tajib, Hilir Ismail, dan lain-lain. Atau bisa datang langsung ke perpustakaan Nasional, Belanda dan Prancis, dll. Dari berbagai literatur tersebut, tidak ada satupun disebutkan seperti pendapat pertama di atas. Apa mungkin para penulis tidak membahas soal ini?. Kalau iya, maka mereka tidak representatif sebagai penulis sejarah dan kebudayaan, karena mereka tidak secara universal membahas dan mengkaji melalui pengamatan dan penelitian yang mereka lakukan, tapi siapa yang meragukan kredibilitas mereka?.

Kemudian pendapat kedua, katanya, kata "Donggo" diartikan sebagai orang pegunungan, atau sekumpulan orang-orang yang mendiami daerah bukit atau dekat dengan lereng-lereng gunung. Ini lebih parah dan sedikit edan, tidak masuk akal serta sesat dan menyesatkan. Di Indonesia, jangan-lah kejauhan, se-Kabupaten Bima saja ada 18 Kecamatan dan hampir rata-rata mendiami daerah per-bukit-an, gunung dan pesisir. Secara ekologis dan geografis maupun secara etnografis, tempat tinggal kita kalau tidak di situ, pasti mendekati bukit-gunung itu. Tidak ada daerah yang tidak bersentuhan dengan itu?.

Pesisir, secara demografis dan antropologis, tetap memiliki sisi bukit dan gunung, kemudian kenapa Donggo Ele (Sambori) dan Donggo Di (Kec. Donggo) yang dikhususkan/dimasukan ke dalam terjemahan dan penjelasan tersebut di atas. Saya kira ini diskriminatif atau lebih parah dari penyebutan itu, semacam rasis-lah. Yang menjadi persoalan bin aneh, hal-hal semacam ini diucapkan oleh orang-orang yang lebih baik secara intelektual, dan kita mungkin akan sedikit memahami jikalau hal demikian diungkapkan oleh orang-orang yang tidak mengenyam dunia pendidikan. Pertanyaannya kemudian, kenapa setiap masyarakat yang menempati wilayah bukit dan gunung tidak juga bernama Donggo, atau dipanggil atau disebut demikian, sebagai Dou Donggo?!. Yang bisa jawab, lengkap dengan literatur, saya transfer pulsa 50 ribu.😂

Kalau demikian adannya, maka semua orang yang menempati bukit dan gunung, se-Kabupaten Bima dan Dompu dapatlah dikatakan sebagai Dou-Suku-Etnis Donggo. Lebih logis!. Dan kita menjadi etnis paling dominan. Soal ini, bukan berarti mengagungkan diri sendiri (sukuisme) dengan mengecilkan keberadaan orang lain, namun lebih pada bagaimana orang dapat dengan jujur untuk menempatkan rasa bangga untuk saling melengkapi, menghormati dan saling mengerti satu sama lain. Bahwa kita bangga dilahirkan dari silsilah, darah dan tanah dari etnis kita masing-masing. Tugas kita paling urgen adalah menjaga warisan budaya, menelaah sejarah serta berpegang teguh pada keyakinan masa lampau sebagai kekayaan lokal paling besar yang pernah dibuat oleh mereka sebagai leluhur kita. Ini merupakan pekerjaan yang paling baik sebagai bentuk penghargaan kita terhadap masa lalu, dan kebanggaan kita untuk masa mendatang, dan kita punya perbedaan atau ciri khas kita masing-masing yang patut disyukuri sebagai norma dan nilai yang tinggi.

Yang terakhir, mungkin semacam bantahan dari kedua pendapat di atas, saya sangat memahami bahwa hal ini mungkin akibat dari keterbatasan mengenal alfabet atau aksara Donggo (Punah) atau aksara Mbojo ataupun runtutan dari sejarah panjang atas perjalanan kebudayaan itu sendiri, bukan berarti saya lebih paham. Tapi saya kerap diskusi dan menelusuri literasi seperti dalam beberapa jilid kitab tentang Gajah Mada tidak ada satu kata pun disebutkan bahwa hal-hal yang berkaitan dengan Jan Manjan/Sang Bima/Indra Jamrud/Indra Sari/berhubungan dengan keberadaan nama dan masyarakat Bima itu secara an sich. Wadu Pa'a dijadikan referensi sekalipun. Hal itu, tidak lebih dari pola kepercayaan Hindu Siwa dan Hindu Budha jauh setelah zaman Makakamba-Makakimbi, mpama-mpemu, dll.

Oleh sebab itu, kata Donggo!. Ini hal penting yang harus dikemukakan dan benar-benar dapat dijadikan bahan pertimbangan oleh berbagai kalangan. Kalau-pun tidak, pasti mungkin dapat mendekati pada satu kebenaran atas fakta yang banyak dibicarakan secara turun-temurun. Bisa didengar atau dicari dalam hikayat Wai Ka'u Lamu, Ncuhi Donggo atau Ncuhi Kala, Mangge Asi dan hubungannya dengan Istana atau Asi, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan masyarakat dan kebudayaan Dou Donggo. Atau bisa juga mengunjungi Wadu Tunti (Palama, Padende, dan Kala).

Foto/ist// Masyarakat Donggo dan kondisi rumah saat itu


Kata, "Donggo" berasal atau berhubungan dengan kata "Donggo" itu sendiri, yang jika diartikan, memiliki pengertian sebagai "uluran atau menyampaikan atau memberi atau menyerahkan". Oleh dikarenakan aksara Mbojo (baca juga Sastra Lisan Donggo dan Babat Aksara Donggo) banyak memiliki ke-khusus-an dengan simbol-simbol tertentu, bahkan ke-khas-annya yang agak sulit dipelajari atau dikenali oleh awam. Maka demikianlah jadinya, semua orang bisa berbahasa Mbojo, namun dalam hal penulisannya hanya sedikit orang yang bisa menuliskannya dengan benar, bahkan jarang orang yang bisa dengan cepat memahaminya. Orang Bima sendiri sangat sulit menjelaskan hal ini, sama seperti ketika diminta menjelaskan arti yang sebenarnya dari kalimat "Kalembo Ade".

Contoh kata yang mengalami perbedaan makna dan arti/misalnya, ada pada penulisan kata "Moda"  untuk "mudah" dan "Moda" yang dimaksudkan untuk "Hilang". Cara kita, orang Bima ketika mengucapkannya sesuatu kata, maka 100 % akan berbeda ketika kita menuliskan kata yang dimaksud di atas kertas, latinnya boleh sama, bunyinya yang berbeda. Contoh lain adalah, "Mbubu" atau "Mbumbu" (semacam bumbu untuk masakan) atau "Bubu". Ketiga kata ini, secara tulisan bisa dibaca laiknya pada apa yang tertera. Namun ketika diucapkan, apalagi dengan maksud untuk menunjukan tempat, misalnya, "Dorombubu" atau "Dorombumbu" atau "Dorobubu". Hal ini sulit dijelaskan. Mungkin ada yang bisa menjelaskan soal ini, kenapa demikian?.

Maka oleh sebab itu, kata di dalam bahasa Bima memang memiliki ciri khas, dan sulit dicerna oleh kebanyakan. Sebab, hanya aksara Mbojo-lah yang mampu men-serasi-kannya dengan baik dari huruf yang satu ke dalam huruf yang lainnya. Seperti Donggo, misalnya. Atau pada kata seperti "Dorombubu-Dorobubu-Dorombumbu, atau kata-kata lain. Hal ini perlu dipikirkan bahkan dikaji bersama agar semua orang faham dan mendapatkan kesesuaian antara makna maupun arti, baik dalam penulisan maupun di dalam pengucapannya.

Turun dan telaah kembali
Biar semua mendapat pencerahan
Dan tidak tersesat ketika di jalan-jalan gelap...

Agar semuanya
Tidak menjadi domba-domba sesat
Apalagi menjadi binatang ternak, yang
Tak lagi memiliki tuan-tuan...

#Tahun2017
#DonGGoanymore
#Kambalikedalamtanahyangsama

Penulis : Apen Makese✍️

Komentar

Postingan Populer