Ijinkan Aku Belajar Padamu
Terima kasih anakku Hardy Haryanto Yudha. Engkau telah memilih Pua untuk menjadi gurumu sekaligus motivator dalam memaknai hidup selama nafas dikandung badan. Mengapa Pua harus menolak? Tanpa diminta pun Pua malah sering dalam jumpa darat mendorongmu menjadi penulis. Sebab Pua juga telah membaca aktivitas hidupmu . Iya punya potensi kelak jadi penulis hebat dari Timur. Lagi tanpa diminta pun Pua menjalankan kewajiban sebagai generasi tua untuk mencerahkan generasi muda. Sebab di tangan nerekalah melanjutkan visi dan misi memaknai hidup selama masih berada di bawah kolong langit ini.
OK? BERIKUT INI PUA HADIRKAN KEMBALI ISI HATIMU!
![]() |
| Usmand D Ganggang (Sastrawan dan Budayawan) |
*********
Pukul 01.13 WIB, waktu yang begitu larut bagi manusia untuk bercanda ria, bercerita dan bermain, sebab malam adalah surga bagi makhluk ciptaan Tuhan. Meski tak semua, namun, saat itulah mereka beribadah, melepas letih untuk menunggu pagi.
Malam ini, terlintas bayanganmu. Aku pun tak mengerti, sepintas naluriku memaksa jari-jemariku untuk mengambil handphone kesayanganku. Tak ada rencana, jemariku , menoreh ini, tetapi kemudian tertegun terus dengan sigap membuka facebook lalu menekan namamu huruf demi huruf. Membaca celotehmu di setiap waktu, tak ada paksaan, dengan riang jemari ini menarik layar hp hanya untuk melihat postinganmu. Aku tak tahu, mengapa mesti dirimu yang dituju?.
Waktu semakin bergulir, tak ada rasa penat, tak ada rasa ngantuk, bahkan gelap malam tak menyurutkanku menghabiskan bait demi bait setiap coletehmu. Semangat jiwa selalu tergiang di benakku, "Baca dan teruslah membaca,!" gumamku dalam hati.
"Cintaku sehangat kopi, sebening embun", "Selendang Sumbawa", Memori surat cinta ketika bersama anakku", "Hatimu terbuat dari apa?" dan kompilasi tulisan _ tulisan lainnya, begitu menghangatkan raga ini. Malam ini inginku sampaikan padamu, Pua! Cobalah tengok, aku berada di sebuah pegunungan pada sebuah desa dengan pepohonan yang menjulang tinggi, daun yang yang rindang nan hijau, membuat malam begitu dingin. Jiwaku meronta memberi energi saat gelap menyengat, ditemani handphoneku, Kubuatkan catatan kecil untukmu.
"Ijinkan aku belajar padamu, Pua!,"
Semangat hati menggoreskan kata seperti tak ingin usai, ingatkah cerita seoarang anak muda yang hendak ingin kuliah dan menjadi dokter, namun tak diizinkan orangtua, sebab tak ada biaya? Ia lalu memutuskan keluar rumah hanya ingin memuaskan hasratnya dalam dunia akademisi, hingga ia menjadi seorang superstar kesehatan (dokter terkenal). Semua orang di sekelilingnya berbangga hati termasuk kedua orangtuanya.
Semangat kuat yang tak pernah usai, memaksaku memberi pesan terhadapmu, "Ajarkan aku hendak sepertimu, menjadi bintang di negeri timur!,". Semua orang mengenalmu layaknya seorang selebriti, namamu tak pernah punah untuk disebut. Bukan aku mengharap puji, namun hasrat ingin menulis, hendak memberi edukasi agar ilmu dapat terbagi.
Tak begitu dekat aku mengenalimu, jika terhitung baru sepintas pernah bertemu, itu pun tak lama, dua kali bertemu kau memberi pesan yang sama, "Nak! Jangan lupa tulis pertemuan ini" ujarmu. Namun aku tak pernah mencatat itu, hingga suatu saat kita pernah berjumpa di sebuah pelayaran yang sama menuju tanah timur (Kupang-NTT), engkau pun memberi kata yang sama "eeh, nanti coba tuliskan pertemuan ini ya,"
Apa ini satu isyarat agar kelak aku dapat mengikuti jejakmu? Dalam hatiku ucapkan "aku kelak akan sepertimu," .
Usmand D Ganggang, nama yang begitu familiar di kalangan kaum muda-mudi. Bagaimana tidak? Seorang sastrawan yang mampu menggaet hati kaum muda melalui tulisannya seperti "surat cinta untuk anakku di seberang sana", memori cinta untuk anakku" hingga beberapa tulisan yang sama. Begitu banyakkah cinta di dalam hatimu?.
Tulisan yang tersiar di dunia maya, begitu menghantarkanmu menjadi tokoh yang hebat dan dikenal (Budayawan, Sastrawan, Dosen, hingga Penyair). Siapa tak iri? Sejak usia muda hingga di usia yang semakin menua, namun semangatmu tak pernah tua, semua tak mampu menghentikan jemarimu untuk menulis, menggoreskan tinta hingga berdakwah lewat catatanmu. (Semoga tetap sehat selalu Pua).
Sebagai orang yang tak pandai menoreh kata, Aku ingin bercerita panjang hingga jemari ini tak lagi mampu untuk menorekannya di atas layar. Inginku jawab, mengapa mesti iri padamu? Sebab aku tak begitu banyak mengenal orang sepertimu di negeri Timur, satu-satunya yang kujumpai adalah engkau. Mengapa ingin belajar padamu? Sebagai asli putra dari Timur banyak hal yang ingin aku goreskan melalui catatanku, kisahku, keluargaku, guruku, sahabatku hingga para pemimpinku dan masih banyak yang lainnya.
*Ijinkan aku belajar padamu*
Bima, 14 Mei 2020
Hardy Haryanto Yudha











Komentar