SAAT ITU DIA PUN BAHAGIA

Asy-Syiffa Az-Zahra


"Kebahagiaan adalah harapan" 

Sepotong kalimat yang sempat terucap dari adikku zahra beberapa hari yang lalu. Kalimat singkat namun bertumpuk harapan dibaliknya.

Adikku sayang,  setahun yang lalu rupamu begitu polos dan tak tahu apa-apa. Keseharianmu dulu hanya menatap buku dan berdiam diri, tak begitu menjadi tanda tanya besar bagiku. sesekali berucap jika dirimu ditanya.

Suatu ketika tak sengaja kami dipertemukan di salah satu sekolah Taman Kanak - kanak yang terletak di Kota Tepian Air. Beberapa menit berlalu hati tergiring dengan sendirinya untuk bertanya.

"bagaimana kabar keluargamu dek?
Pertanyaan yang sering kusuguhkan jika bertatap muka dengannya. Dan ini tak asing baginya.

Senyum sambil Berdiam diri adalah jawaban pertamanya untuk pertanyaanku..
Berlagak tak mendengar, dalam hati (Aku harus bertanya lagi). Pertanyaan yang sama pun kembali terucap. "Bagaimana kabar keluargamu dek?. Tak lama Ia menjawab "alhamdulillah, iinahum bikhayr" ujarnya dengan lembut.

Ku coba bertanya lagi "Bagaimana dengan Kuliahmu? Apakah baik-baik saja? Ia jawab "sarat almuhadarat bishakl jayid ya 'akhi (Kuliahku lancar kak tak ada kendala)" jelasnya dengan nada yang sama.

Kebiasaannya menggunakan bahasa arab di salah satu University Islam di Kota Tepian Air tersebut, menjadikanku terlihat seperti sedang berkomunikasi dengan orang arab sungguhan.

(Wah..! Bagaimana bisa mengerti ini?) kataku dalam hati.

Namun demikian, ku akui dirinya tak tampak angkuh dihadapanku, mesti sering berucap arab. Walau tak sepandai dirinya, sedikit -sedikit aku juga bisa bahasa arab sepertinya, walau tak banyak.
Bisakah kau mengajarkanku bahasa arab adikku zahra?

"Oh tentu kakakku" ucapnya lantang dihadapanku. Tak ku kira jawaban secepat kilat pun terucap dengan penuh keyakinan dari mulutnya."

Tak lama kemudian, dering handphone terdengar dari dalam tasnya, diangkat dan ia jawab.
Tak tau pasti apa yang dibahas, namun terdengar suara dari balik Handphone dengan kata ajakan "ke rumah sakit nak, cepat! ".

Pandangan tak terarah, gunda gulana, sedih, bingung, air mata menetas, pusing, semua dirasakannya. Ia meminta ijin untuk kembali terlevih awal. 

Perihal kebahagian adalah sebuah keniscayaan, harapan menuntun hidup bahagia membuka jalan bagi siapapun yang hendak menikmati dunia. Aku pun berharap demikian. 

Saat fajar tiba, ada rasa dan nafas yang meronta, terabadikan dengan indah sebuah pemandangan alam yang natural, terpampang dihadapan mata, lalu ku imajinasikan dengan sederhana bagaimana kebahagian yang sederhana dan hakiki itu dapat terwujud. 

Aku berpura tak melihat sebuah duri yang tertusuk di kaki, seakan menganggap buta meski itu terasa sakit. Tapi menjaga kebahagiaan dengan sebuah ekspresi adalah satu strategi. Aku terdiam dan mencabutnya dengan sendiri,  meski ku tahu aku butuh orang lain. 


Bersambung..... (Eps-1)


Komentar

Postingan Populer