NDUA OI atau KETUBAN PECAH DINI (Premature Rupture Of Membran)
Tulisan ini saya awali dengan sedikit cerita😊. Saat bertugas, sering kali kami jumpai kasus KPD yaitu kondisi keluarnya air dari jalan lahir yang sedikit maupun banyak dan pecah secara spontan baik di usia kehamilan yang sudah ATERM (usia sempurna untuk melahirkan 37 sampai 40mgg) ataupun sebelum aterm/preterm (kondisi kehamilan 20 mgg sampai 35mgg). Namun dalam hal ini kami sering kali berselisih dengan masyarakat ataupun sando (dukun) di desa, karena menurut masyarakat setempat bahwa itu adalah OI NDUA dan merupakan hal biasa bagi masyarakat.
Tentu saja kondisi ini menjadi PR bagi BIDAN DESA maupun lintas sektoral untuk memberikan pemahaman secara perlahan-lahan namun pasti kepada masyarakat maupun DUKUN.
Perlu di ketahui, bahwa ketuban pecah dini atau keluar air dari jalan lahir sebelum waktunya sangat beresiko, baik untuk ibu hamil, maupun bayi yang ada dalam kandungannya.
Adapun komplikasi yang bisa terjadi pada ibu jika terjadi ketuban pecah dini :
- Kemungkinan infeksi pada selaput janin (chorioamnionitis).
- Beresiko infeksi pada ibu. Misalnya Emboli air ketuban yg disebapkan oleh kontraksi aktif pada ibu hamil dengan ketuban yang terus merembes.
- Bisa menyebabkan bayi atau neonatal mengalami aspirasi mekonia (hal ini akan menimbulkan pneumonia pada bayi).
- Tali pusat tertekan atau kompresi tali pusat. Kurangnya cairan ketuban dapat membuat tali pusat tertekan oleh janin. Pada beberapa kasus kompresi tali pusat dapat menyebabkan cedera otak serius bahkan menyebabkan kematian.
- Bayi mengalami fetal distres ataupun fetal death.
Oleh karena demikian di harapkan kepada masyarakat agar segera menghubungi NAKES (Tenaga Kesehatan atau Bidan Desa) jika terdapat tanda-tanda keluanya air dari jalan lahir sebelum waktunya dengan ciri sebagai berikut :
- Panggul terasa tertekan.
- Keputihan atau vagina lebih basah dari biasanya
- Keluar air sedikit - sedikit atau spontan dari jalan lahir dan berbau khas.
Ada contoh pada 1 kasus yang pernah kami hadapi. Si ibu hamil 38 mgg, keluar air sejak kemarin sedikit - sedikit dari jalan lahir. Kemudian baru menghubungi bidan 1 hari setelah keluar air, Akhirnya bidan melakukan pemeriksaan dlm atau VT (vaginal toucher) ternyata tidak ada pembukaan, kemudian bidan menjelaskan bahwa hal itu adalah susp. KPD (curiga ketuban pecah dini). Namun hal itu tidak serta merta di terima baik oleh keluarga pasien ataupun dukun setempat.
"Ah ndua oi bu bidan ntar kalau airnya habis juga pasti melahirkan kok."
"Kami jaman dulu sih gak ada bidan lahir juga anak kami, Selamat lagi. Bu bidan gak usah terlalu nakut - nakutin in juga ini hal biasa kok,"
Kami harus memutar otak untuk menjelaskan dan memberi pemahaman tentu saja dengan cara yang santun dan dapat di pahami oleh masyarakat. Dan hal ini mungkin juga sering kali di alami oleh temen - teman Bidan Desa khususnya daerah kabupaten.
Dalam hal ini perlu peningkatan kerjasama lintas sektoral dan lintas programer, mungkin dengan demikian hal ini bisa menjadi solusi demi tercapainya peningkatan AKINO (angka kematian ibu dan bayi 0). Misalnya memberikan pelatihan atau mengadakan pertemuan Bidan, Dukun, Toga dan Toma setempat.
Tidak hanya itu, perlu adanya pelatihan-pelatihan kompetensi bidan desa (karena mereka adalah ujung tombak kesehatan masyarakat desa). Pelatihan kasus kegawatdaruratan materna juga sangat diperlukan, meski sekarang mengakses informasi tidaklah sulit lagi namun perlu di lakukan pelatihan -pelatihan karena membaca teori dan melakukan praktek sangatlah berbeda.
Oleh karena itu, Dengan adanya tulisan ini diharapkan pada teman -teman untuk saling berbagi informasi karena tidak semua masyarakat dapat bermedia sosial.
Penting : Jika ada salah 1 atau salah 2 keluarganya yang mengalami hal demikian mohon diinformasikan tentang hal ini atau bisa juga menghubungi bidan desa setempat agar bidannya segera melakukan tindakan ataupun rujukan.
Semoga bermanfaat baik untuk masyarakat maupun untuk teman - teman bidan. ,
Oleh : Leny Lestary, S. Keb











Komentar